Upaya memanfaatkan sumber daya perikanan Nusantara secara optimal ternyata masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan modal hingga minimnya sarana prasarana. Kemampuan armada penangkapan ikan yang sebagian besar masih menggunakan perahu tanpa motor atau dengan motor-motor kecil mengakibatkan wilayah operasional penangkapan ikan hanya terbatas di sekitar pantai. Menurut data Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2016, potensi lestari produksi perikanan Indonesia pada tahun 2015 mencapai 23,99 juta ton ikan per tahun. Akan tetapi produksi perikanan tangkap secara nasional realisasinya rata-rata hanya sebesar 25%. Oleh karena itu kami menggagas untuk menciptakan alat yang bernama AUTO-LION (Automatic Lighting Rumpon) untuk mengatasi permasalahan tersebut.

AUTO-LION (Automatic Lighting Rumpon) diciptakan oleh Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, yang diketuai oleh  Shasa Chairunnisa, dan beranggotakan  Nanang Setiawan, Irkham, Kristina Ekawati, dan  Ahmad Anwar, serta dibimbing oleh Dr. Aristi Dian Purnama Fitri, S.Pi., M.Si  yang merupakan dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Melalui ajang PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) yang sudah berlangsung selama 3 bulan, tim AUTO-LION telah melakukan kerja sama dengan nelayan bagan tancap di Perairan Tambak Lorok, Semarang, yaitu Pak Mudhofar dalam rangka uji coba alat. AUTO-LION pada dasarnya dirancang untuk membantu sistem penangkapan yang aman bagi sumberdaya. Hal ini dikarenakan AUTO-LION memiliki kemampuan untuk menyeleksi spesies ikan yang akan ditangkap, yaitu ikan yang tertarik terhadap fenomena cahaya dan suara (fototaksis positif dan akustitaksis). “Kami sengaja menggunakan atraktor suara dan cahaya sebagai penarik perhatian ikan, sehingga ikan akan berkumpul di suatu tempat dan dapat memudahkan proses operasi penangkapan ikan. Jumlah hasil tangkapanpun dapat meningkat dan kesejahteraan nelayan juga meningkat,” kata Shasa Chairunnisa selaku ketua tim.

Teknologi rumpon yang di buat memiliki beberapa keunggulan teknologi yaitu penambahkan straktor suara dan juga atraktor cahaya berupa lampu bawah air yang dapat menyala secara otomatis pada malam hari sehingga dapat merangsang ikan fototaksis untuk mendekat. Teknologi yang hendak digunakan adalah LDR, mikrokontroler, relay dengan sumber energi listrik berupa sel surya. LDR akan membaca keadaan pada saat terang maupun gelap. Setelah itu mikrokontroler akan memproses pembacaan dari LDR. Apabila keadaan gelap maka relay akan aktif sehingga lampu menyala. Sedangkan apabila keadaan terang maka relay tidak aktif sehingga lampu mati. Penggunaan AUTO-LION tidak membutuhkan energi listrik dari pembakaran bahan bakar fosil, melainkan listrik terbarukan karena energi yang digunakan diambil dari cahaya matahari yang diserap oleh panel surya dan disimpan di dalam aki. Sehingga AUTO-LION merupakan alat yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil tangkapan sebanyak 10% pada penggunaan rumpon, 12% pada penggunan atraktor suara dan 25% pada penggunaan atraktor cahaya. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi nelayan jika alat ini dapat dioperasikan secara terus menerus. Tim AUTO-LION berharap karyanya dapat diaplikasikan dan berguna bagi masyarakat nelayan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.