(024) - 7474698 fpik@undip.ac.id

DPT, SEMARANG – Kisah sukses para alumni memang selalu menjadi kebanggaan dan buah bibir tersendiri bagi perguruan tinggi, bahkan sering menjadi inspirasi bagi para adik kelasnya. Salah satunya adalah Benaya Meitasari Simeon (31), seorang peneliti di IUCN (International Union for Conservation of Nature) Species Survival Commission (SSC) – Shark Specialist Group. Alumni Program Studi (Prodi) Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (sekarang Prodi Perikanan Tangkap) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) tahun 2012 adalah seorang spesialis ikan hiu di Komisi Penyelamatan Spesies (SSC) IUCN, sebuah komisi khusus yang bertujuan pelestarian spesies di seluruh dunia. Badan yang didirikan 1948 dan berpusat di Gland, Swiss beranggotakan 78 negara, 112 badan pemerintah, 735 organisasi non-pemerintah dan ribuan ahli dan ilmuwan dari 181 negara.

Benaya saat ini tergabung dalam jaringan ilmuwan yang terdiri dari ribuan ahli dan relawan dari seluruh negara di dunia yang bekerja dengan visi “sebuah dunia yang menghargai dan mengkonservasi keanekaragaman hayati” mulai mencintai masalah kelautan sejak menjadi mahasiswa. Perempuan kelahiran Semarang, 29 Mei 1990 itu kini dipercaya sebagai peneliti yang fokus pada perikanan dan konservasi laut Hiu dan Pari di pesisir Jawa Tengah. “Tahun 2021 ini saya menjadi salah satu anggota dari IUCN Species Survival Commission – Shark Specialist Group. Bersama IUCN banyak peneliti internasional, kami mengkaji kerentanan populasi Hiu baik di tingkat regional hingga global,” kata Benaya saat diwawancara, Sabtu (3/7/2021).

Sosok yang senang belajar tentang kehidupan kelautan khususnya pada ikan Hiu dan Pari ini memiliki banyak pengalaman bekerja. Di antaranya pada tahun 2017 dirinya diajak bergabung di salah satu lembaga non-profit Internasional yang bergerak di lingkungan hidup dan mendukung pemerintah untuk melakukan pengelolaan perikanan Hiu dan Pari di Provinsi Aceh dan Nusa Tenggara Barat. Kemudian pada tahun 2018, dirinya menyelesaikan Training Conservation Leadership Program (CLP) bersama para konservasionis muda dari negara-negara di Asia – Pasifik. “Sehingga, melalui pengalaman ini, saya seringkali diundang menjadi pelatih identifikasi Hiu baik di tingkat nasional hingga tingkat regional.” terangnya.

Menurutnya, sebagai perempuan yang bergerak di bidang konservasi dengan pendekatan perikanan bukanlah hal yang mudah. Dengan pengalaman yang dimiliki, seringkali diundang oleh Badan Pangan Dunia FAO untuk mendiskusikan kondisi Hiu dan Pari sebagai perwakilan Indonesia, di antaranya saat pertemuan di Vigo Spanyol 2018 dan di Kochi India pada tahun 2019. “Pada tahun 2019, saya juga diajak bergabung dengan gerakan konservasionis internasional untuk menumbuhkan harapan tentang bumi ini dan mempresentasikan kondisi perikanan Hiu dan Pari di Indonesia dalam Conservasion Optimism di Universitas Oxford,” tambah perempuan yang juga lulusan Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Teknologi Perikanan Laut.

Hingga saat ini perempuan lulusan SMP PL Domenico Savio ini aktif mendukung pemerintah pusat baik KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) maupun LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk melakukan penelitian dan pengelolaan Hiu dan Pari. Bukan hanya pemerintah, melalui konsorsium bernama Fisheries Resource Center of Indonesia dia juga aktif mendukung mahasiswa, LSM & komunitas lokal (LATUN Bengkulu & Sawfish Indonesia di Merauke) untuk melakukan riset dan pengelolaan Hiu dan Pari di Indonesia. Dari kegiatan yang dilakukannya, pecinta musik ini sudah meraih beberapa penghargaan terkait dengan bidang kelautan dan perikanan. Secara jujur dia mengakui sangat terkesan saat belajar di kampus UNDIP, meskipun FPIK waktu itu bukan merupakan jurusan pertama yang dipilih. Namun selama belajar di FPIK UNDIP, dirinya diperkenalkan kepada banyak hal yang sangat menyentuh hati. Salah satunya melihat masyarakat pesisir yang dinamis, keanekaragaman hayati laut Indonesia yang kaya, dan sumber daya ikan Indonesia yang harus dikelola.

Lokasi kampus UNDIP yang sangat strategis, berada di kota pesisir, membuat dirinya dengan mudah dapat melihat kondisi perikanan di Pantai Utara Jawa yang menjadi barometer perikanan Indonesia. Dia menegaskan, ilmu tidak hanya diperoleh dari buku dan teori, namun bisa diperoleh melalui praktik implementatif untuk pengelolaan perikanan di Indonesia. Dengan dukungan dosen-dosen dan keluarga alumni membuat dirinya mendapat banyak peluang belajar dan berkarya baik di tingkat Nasional hingga Internasional. “FPIK UNDIP memperkenalkan saya terhadap banyak nilai-nilai hidup dan mimpi-mimpi baru yang ingin saya capai melalui karier saya untuk ekosistem laut Indonesia yang sehat dan masyarakat pesisir yang sejahtera,” ujar alumni SMA Krista Mitra Semarang.

Berkaca pada perjalanan karirnya, Benaya menyarankan agar para mahasiswa terutama adik kelas yang harus belajar di tengah pandemi mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini. Dia menyebutkan saat ini merupakan masa yang berat untuk semua orang, namun justru cara beradaptasi pada masa pandemi ini mendobrak banyak batasan-batasan yang menjadi penghalang. Tentunya, dengan terus melakukan pembelajaran diri secara maksimal sesuai dengan protokol kesehatan sebagai pemahaman barunya. “Dengan metode online, mahasiswa dapat banyak belajar di webinar-webinar dan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Tetap semangat untuk menggapai cita-cita dan membangun Indonesia,” pungkas Benaya yang juga aktif membuat film-film pendek tentang dunia kelautan dan konsevasi laut masyarakat pesisir Jawa Tengah. (Sumber: undip.ac.id | Tim Humas UNDIP)